- del -
Yap, gue dah del entry yang tertoreh di tubuh kamu hari Sabtu lalu, BloGgY. Dan gue ganti dengan celoteh ini. Kadang gue pen kamu menjadi sesuatu yang tidak untuk dipublikasikan. Seperti buku diary kecil yang kini teronggok dalam lemari belajar gue. Terkunci dan tergantikan dengan kamu. Tapi di sana banyak cerita yang tak terbagi. Hanya gue yang tau. Kamu ? Kamu sedikit banyak populer, BloGgY, walo mungkin orang2 itu tidak pernah membaca kisah kamu hingga usai, tapi setidaknya mereka tau kamu ada.
Seperti entry sebelum sempat gue del, terkatakan bahwa hari ini gue lelah. Tidak banyak yang tau. Mas Eki mengeluh dengan tubuhnya yang lemas dan dengan masalah keluarganya yang tak usai. Saat dia mengerang di depan gue dan Dedet, yang dia liat mungkin bukan gue yang peka. Karena gue cuek, karena gue masih bisa tawa2. Gak sebenernya gitu, BloGgY. Maren, otak gue banyak berpikir. Dan itu meletihkan jiwa gue, sekaligus raga gue.
Apa yang gue cari, BloGgY ? Gue seharusnya senang dia ada di hadapan gue. Dia yang datang begitu tiba2. Cukup mengagetkan saat nyokap nyampaein keberadaan dia di Jakarta, Jumat lalu. Gue ngembusin nafas lega. Bagaimana kalo bokap gak batalin acara liat lahan di Yogya ? Berarti dia datang ke sini tanpa bisa ketemu gue kan ? Atau memang dia gak mau ketemu gue ? Kalo gitu percaya diri sekali gue saat ngomong, "Boleh Sha ke sana ? Jam 4 sore ?"
Dan saat gue ada di hadapan dia, gue tau gue masih orang laen untuk dia. Sekalipun kita pernah derai cerita hingga larut malam, hingga dia 2 kali tertidur, hingga kantuk menyergap gue begitu telat, tetap saja gue merasa gue belum mengenal dia secara utuh. BloGgY, apa yang sebenernya gue cari ? Sabtu ini panas. Diri gue berkeringat. Tapi keringat itu bercampur peluh, peluh karena gue sibuk mencari jawaban tentang apa yang sebenernya gue cari.
Dia baek dan tetap baek. Dia masih tidak pernah menuntut macem2. Gue tau, dia tidak pernah mempersulit diri gue. Tapi justru gue yang akan menyusahkan diri dia. Gue bukan April untuk Dede, BloGgY. Kamu paham, bagaimana kompleksnya hidup gue ? Kamu paham, sekalipun gue coba, gue tetep bukan pribadi yang sederhana untuk dia.
Satu pelajaran hidup memang baru gue dapet bahwa gue harus melangkah di atas kaki gue sendiri untuk segala keinginan gue sendiri. Tapi justru, di saat pelajaran hidup itu datang, lingkungan sedang meminta gue banyak. Orangtua, sahabat2, kampus. Orang2 yang selalu ada di samping gue, hampir 24 jam dalam sehari, hampir 7 hari dalam seminggu, hampir 30 hari dalam sebulan, hampir 8 bulan dalam sewindu, hampir 364 pergantian mahatahari dalam setahun. Dan dia... ada dalam idup gue, bener2 di depan gue, mungkin hanya 6 jam dalam 8 bulan, atau dalam rengtang waktu yang tidak pasti lainnya.
Ciz bilang, gue harus menentukan keputusan, agar sang pengemudi taxi tidak lagi lelah mencari penumpangnya. Agar taxi yang dia kemudikan tidak benar2 menjadi rusak. Saat Ciz bicara perumpamaan itu, gue mendengar sambil mendetingkan gitar, mencoba memetik intro lagu Mahadewi. Seperti tidak peduli. Tapi sungguh, ucapan Ciz mengusik ati gue. Yeah, gue memang harus menentukan keputusan, saat ini juga.
Gue pilih... menyerah. Gue pilih... pergi. Ada 1 nasehat untuk Satin dalam film Moulin Rouge, saat Satin mau melarikan diri bersama penulis tercintanya, meninggalkan gemerlap Moulin Rouge dan meninggalkan Duke. Nasehat itu, "Hurt him to save him!" Yah! Gue harus sakitin dia saat ini untuk kebaekan dia. Gak sanggup gue, BloG, membiarkan dia tenggelem dalam asa tanpa ujung. Harapan dalam hidup harus selalu ada tapi setidaknya terdapat 1 titik di mana harapan itu harus dihentikan jika kita tidak mau menyia2kan hidup.
Kamu lebih paham dari semua yang paham pada diri gue, BloG. Yeah, kamu paham gue sayang dia. Demi Tuhan, gak bisa gue ingkari itu. Tapi gue harus memutuskan untuk bebasin langkah dia tanpa diri gue. Katakanlah gue suck, gue terima. Katakanlah pada dia, "See? Dah gue bilang, Sasha gak cocok buat loe!", gue mengerti.
Tapi orangtua gue bakalan nangis darah jika tau gue lahir untuk menjadi orang yang jahat. Maka itu gue gak mau jadi orang yang jahat. Maka itu percayalah, gue lakukan ini bukan untuk menjahati dia ! Karena gue tidak berhak membuat hidup dia stuck dalam ketidakpastian tentang gue !
Untuk orang2 di sana yang mungkin dah kecam tindakan gue, bahkan mungkin dia di sana yang dah hujam makian untuk gue setelah membaca kamu BloGgY, maafin gue yang gak pernah bisa menjaga dia. Menuliskan semua ini di dalem tubuh kamupun, BloGgY, saja saja dengan memulai permusuhan dengan orang2 yang peduli padanya. Jangan katakan dia miskin sahabat dan teman. Gue yakin, jika keputusan gue ini harus menerima hukuman, maka hukuman pertama yang gue dapet adalah dari rasa bersalah hati gue sendiri Dan kedua ... dari orang2 yang peduli padanya itu.
Cizkah, inilah jawaban untuk pertanyaan kamu di dalem kamar April tadi. Dia, inilah jawaban untuk dia atas pertanyaan yang mungkin selama dia simpen dalam hati. Sekali agi maafin gue. Sekali agi gue mungkin suck, tapi gue bukan penjahat. Ah, Tuhan, hari ini memang sangat melelahkan...
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment