Dear BloGgY...
Di malem ini gue pen berbagi sama kamu tentang apa yang selama ini gue rasa tapi begitu susah untuk gue katakan. Tentang sesuatu yang dinamakan "menyayangi" dan "memilih". Biar bagaimanapun, gue ingin mengurangi 1 beban dari 3 beban yang kemaren gue sebutkan. Itu berhubungan dengan... membuat keputusan dan seperti yang dah gue katakan, saat ini gue pen bisa lebih tegas dalam berbagai hal.
Gue gak mengerti mengapa gue bisa kenal dengan seseorang yang bernama... Ranggi. Rasanya gue dah menceritakan tentang diri dia ke kamu, dari awal gue nalan sama dia hingga kini dia bisa deket sama gue. Yeah yeah... semua terjadi begitu saja dan harus gue akui, semakin ke sini gue semakin memahami bahwa Ranggi sebenernya adalah co yang baek.
Yang membuat Ranggi menarik di mata gue... dia adalah orang yang gampang beradaptasi dengan siapapun. Dia juga orang yang nice tanpa pamrih. Gue mengetahui sifat terakhir dia itu bukan dari mulut dia sendiri tapi dari mulut orang2 yang dah mengenal dia secara lebih mendalam, bahkan dari mulut Selly yang dulu pernah sebel sama dia. Setelah gue perhatikan, Ranggi memang begitu adanya. Dan baru aja kemaren gue liat salah satu dari kebaekan kecil yang dia perbuat. Dia rela puter2 nyari bangku buat Yusar dan Dence di Edi Al-Azhar, padahal saat itu dia baru aja kenal sama mereka berdua. Suau tindakan yang sederhana, tapi itu membuat gue cukup tertegun.
Kamu bisa menuduh, bahwa dia lakukan itu karena gue... karena pen cari muka di depan gue... karena dia suka gue. Tapi ntah mengapa gue begitu yakinnya mengatakan, tuduhan kamu itu salah, BloGgY. At the fact, gue lebih banyak mengetahui kebaekan2 Ranggi belakangan, itupun dari mulut orang laen, karena Ranggi hampir gak pernah menceritakan tentang kebaekan2nya itu kecuali jika gue tanya. Saat itu juga gue tau, dia orang yang tulus.
Ah yah, ada hal laen dari Ranggi yang membuat dia menjadi special di mata gue. Dia begitu "simple" dan tau bagaimana menempatkan diri. Dia tidak pernah meribetkan gue dengan perasaan2 cemburu gak jelas, dia gak pernah meribetkan gue dengan peraturan2 yang mengekang tapi dia punya prinsip. Ada saat tertentu dia menegur gue bahkan marah sama gue. Walo awalnya gue merasa gue ada di pihak yang benar, pada akhirnya gue menyadari juga, gue memang salah dan dia pantas untuk menegur atau marah ma gue.
Gue tau dia sayang sama gue, gue tau dia mengharap perasaan yang serupa dari gue. Tapi dia memahami, gue butuh waktu untuk menyusun perasaan gue yang belum yakin. Dia tau, gue tidak suka dipaksa. Dan dia hadir di hadapan gue apa adanya. Dia berikan perhatian jika memang dia ingin. Dia ada jika memang gue butuhkan. Tapi dia gak pernah menghujani gue dengan sejuta kata manis yang gak ingin gue dengar. Dia gak pernah berlagak seakan di dunia ini yang gue perlukan hanya dia. Dia sadar gue punya lingkungan sosial yang laen yang juga sangat gue hargai.
Seperti yang gue katakan, dia memang begitu simple tapi justru di situlah menariknya dia.
Mungkin kamu cukup terkejut, BloGgy, mendengar pendapat gue saat ini tentang Ranggi. Mungkin kamu masiy mengingat bagaimana dulu gue sempet sedikit membencinya dan selalu berprasangka buruk sama dia. Yang ada dalam pandangan gue saat itu adalah... dia "ex user". Yang ada dalam penglihatan gue saat itu adalah... dia mempunyai teman2 yang sehari2 begaul dengan putau dkk... yang nampak gak punya masa depan... Tapi bukankah ada pepatah : "Tak mengenal maka tak sayang" ? Ternyata pepatah itu bener adanya yah ? :)
Mpe sekarang, gue juga masiy suka ragu, apakah Ranggi bener2 "bersih" dari segala narkoba. Mpe sekarang, gue juga masiy sebel kalo dia agi ngumpul sama temen2 Percik nya atau Darmawangsa nya, seperti Sendy, Ersa, dll. Ranggi gak pernah tau kalo gue gak suka sama mereka. Hanya gue nya aja yang hampir gak pernah mau gabung sama mereka. Bukan apa2, gue cuma gak merasa comfie aja berada dalam pergaulan mereka. Beside that... gue lebih suka cafe daripada diskotik dan... gue lebih suka R&B daripada house music. :)
Hubungan gue dan Ranggi selama ini berjalan begitu aja, seperti air yang mengalir. Rasa lelah dan sakit saat harus menghimpun hati gue yang "rusak" kala berpisah dengan orang2 yang gue sayangin... membuat gue kini melangkah dengan segala perhitungan dan mengharap lebih dari seorang pengganti Rizky. Seseorang itu haruslah yang bisa membuat gue yakin, bersama dia gue aman... bersama dia gue nyaman... bersama dia gue pasti...
Ntah apa maksud Tuhan, yang tiba2 "menghambrukan" seorang Ranggi di depan gue, mengizinkan Ranggi selalu ada dalam hari2 gue, dan membiarkan Ranggi menyukai gue lebih dari seorang "sahabat". Selama ini gue banyak mengalami... sayang kepada orang2 yang "salah". Yeah, orang2 yang gue tau gak akan bisa bersatu sama gue karena 1 prinsip yang mendasar... juga orang2 yang begitu susah untuk gue "raih" kehidupannya karena perbedaan ruang dan waktu ( hi Einstein... ). Lalu apakah Ranggi merupakan jawaban dari penantian2 gue ?
Gak adil kalo saat ini gue harus membuat suatu keputusan karena pikiran dan perasaan gue sendiri masiy dalam proses menyusun kerangka2 keputusan yang terpisah itu. Tapi fine... gue harus menuntaskan 1 kelabilan dari kelabilan2 yang sedang gue alami sekarang. Gue akan coba menyayangi Ranggi. Gue akan coba memusatkan perasaan gue pada dia. Gue coba untuk cari jawaban, mengapa Tuhan memberi dia berbagai macam "peruntungan yang lebih baek" dan berbagai macam "kesempatan" dibandingankan dengan seseorang di sana yang gue sayang... Yap, mengapa Tuhan membuat Ranggi lebih "nyata" dan lebih mudah "disentuh: dibandingkan dia...
Itu keputusan gue yang tidak ingin gue buat sekarang tapi HARUS gue buat sekarang. Katakan gue gak adil untuk semua ini, tapi tolong jangan lupa untuk menghargai segala penantian yang dah pernah gue lakukan selama ini....
Well at least, I neva gave up on u and that was what kept me going. In the story of my life, the best chapters are filled with u. Thx for everything... Gue akan tetap mengingat kamu, meski kini gue dah memilih Ranggi...
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment