Davina Vania Millano...
Yang berarti ... Anugerah Tuhan yang indah yang dicintai rakyatnya. Isn't it a sweet name? Yah, malaikat kecil yg terlahir dari rahim gue pd tanggal 25 Mei 2008 lalu itu memang begitu manis dan indah. Hingga saat ini, dialah miracle terdasyat dalam hidup gue dan orang2 di sekitarnya.
Dia terlahir dalam keadaan yang sebenarnya "memprihatinkan". Masih lekat dalam ingatan tentang tanggal 27 April 2008. Yah, saat gue & keluarga gue baru saja pulang dari Innacraft. Menemukan bokap yang terjatuh di tengah rumah, muntah dan lemah. Ah, gue gak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Saat itu gue sedang mampir dulu ke rmh sakit utk check up kehamilan. Dan tiba2 saja gue disuruh ke UGD Rs, Meilia Cibubur. Dan di sanalah gue melihat bokap terbaring tanpa sadar dengan diagnosa stroke akibat pendarahan di otak. Dan mengalirlah cerita tentang bokap yang terjatuh itu. Dan gw merasa tulang belulang gw begitu lemas.
Atas request keluarga, bokap dini hari itu langsung dipindahkan ke Rs Mitra Internasional Jatinegara dan langsung mendapatkan kamar di ICU. Dan dini hari itu kita sekeluarga menginap di rumah sakit. Karena kehamilan gw dan belum begitu tahu kondisi waiting room ICU di sana, akhirnya gue tertidur di mobil. Tetapi gue sama sekali gak bisa tidur. Selain karena perut gue yang sudah membesar dan gue merasa kepanasan sekali akibat AC mobil yang tidak dinyalakan, hati gue begitu berkecamuk. Gue teramat sangat sedih.
Bokap di rumah sakit sekitar 3 minggu. Dan selama bokap di rumah sakit, hampir setiap hari sepulang kantor gue mampir dulu ke rumah sakit dan baru tiba di rumah malam2. Yg nungguin bokap di rumah sakit adalah nyokap. Melihat nyokap yang begitu letih dalam masa penungguan membuat sedih gue berlipat2 ganda besarnya.
Saat bokap pulang ke rumah, gue juga gak bisa tinggal diam. Bagaimana mungkin gue bisa asik leha2 sementara gue melihat kondisi bokap yang tidak berdaya? Bokap tidak ingat siapapun dan apapun. Bokap hanya bisa marah2, merenung, dan tergeletak. Pup dan pipis di pampers. Merintih kesakitan tetapi saat diberi pertolongan seperti tidak mau terima. Dalam keadaan hamil tua, gue ikut mengangkat tubuh bokap saat bokap mau digantikan bajunya. Atau mengangkat kasur saat sprei tempat tidur bokap mau dibersihkan.
Hingga akhirnya dokter kandungan gue mengatakan, gue harus stop stress dan bedrest total karena pre-eclampsia gue semakin parah dan berat badan janin gue terhambat! Gue menangis sejadi2nya sewaktu pulang dari check up, saat dokter menyebutkan berat badan janin gue yang masih SANGAT KURANG. Gue menangis utk banyak alasan. Di satu sisi gue gak terima jika karena suatu apapun mencelakakan bayi dalam kandungan gue. Di satu sisi gue ingin sekali bisa membantu bokap.
Dan akhirnya gue pilih... gue harus mengutamakan janin gue. Yah, gue sangat mengharapkan kehadirannya. Dan guelah orang yang paling bertanggungjawab atas kehidupannya. Dan gue berusaha berpikir, masih banyak yang lain yang bisa menolong bokap. Dan jikapun gue gak bisa menolong bokap, bukan berarti gue tidak mencintainya. Gue hanya harus memilih.
Memang sejak usia kandungan gue menginjak 8 bln, tekanan darah gue perlahan menanjak. Dokter kandungan gue langsung mengambil tindakan. Gue disuruh lab. Ternyata hasilnya bagus. Tetapi dokter gue langsung menyuruh gue bedrest selama 2 minggu. Karena yang namanya pre-eclampsia, biasanya harus melahirkan cepat (prematur) demi keselamatan bayi dan ibu. Tetapi dokter gue ingin bayi gue dilahirkan tepat waktu. Walaupun berat badan bayi tetap kecil, setidaknya paru2 dan organ lainnya sudah matang.
Ternyata selama 2 minggu tekanan darah gue tetap tinggi. Langsung disuruh bedrest 1 minggu lagi. Sungguh aneh. Gue tidak punya riwayat tekanan darah tinggi. Dan jika gue didiagnosa pre-eclampsia, seharusnya kaki dan badan gue bengkak. Tapi ini gak. Gue merasa fine2 aja. Tapi yah dokter nyuruh gue bedrest, gue harus patuh. Untung pihak kantor mau ngerti.
Setelah bedrest berulang2, akhirnya tekanan darah gue normal lagi. Dan akhirnya gue boleh masuk kantor lagi. Tp dasar gue, kalo dah kerja suka lupa waktu. Tetep aja gue lembur karena pekerjaan yang segambreng! Dan karena perut yg semakin besar, gue jadi susah tii gdur. Dan kemudian munculah peristiwa bokap yang terserang stroke. Semakin lengkaplah tubuh dan hati gue "bekerja keras".
Saat check up terakhir, sebenarnya tek darah gue normal. Tetapi dokter menangkap kadar air ketuban gue yang sudah berkurang sementara gue belum merasakan konstraksi. Dokter tidak mau mengambil resiko. Gue disuruh CTG. Jika hasilnya jelek, saat itu juga gue sudah harus rawat inap dan caesar. Jika hasilnya bagus, tetap hari itu gue harus mulai rawat inap tetapi gue masih boleh pulang mempersiapkan baju dll dan masih bisa diupayakan melahirkan normal.
Alhamdulillah hasil CTG nya baik. Detak jantung bayi gue terdengar kuat dan sehat. Akhirnya gue pulang. Makan yang banyak di resto Padang utk mempersiapkan stamina. Pamit sama orang rumah. Sholat bersama. Dan kemudian balik ke rumah sakit. Disuruh CTG lagi. Hasilnya masih tetap baik. Lalu gue diperiksa dalam. Omigod, gak nyaman banget rasanya! Ternyata gue dah bukaan 1. Hellow, kok gue gak ngerasa yah bukaan 1 itu? Kata bidan siy, saat CTG ketawan kalo gue sebenarnya sedang konstraksi kecil. Gue bergumam dalam hati, "Kontraksi? Mana kata orang kontraksi itu sakit? Jangan2 emang gak sakit yah melahirkan itu?
Dan akhirnya gue tiba di kamar rawat inap...
Ada rasa deg2an. Gue belum pernah merasakan melahirkan itu seperti apa. Tetapi gue begitu excited ingin bertemu malaikat kecil gue yang dah gue tunggu2 9 bln lamanya. Dia pasti cantik sekali. Seperti gue. Hahaha.
Karena bukaan gue baru 1, akhirnya gue disuntik induksi. Bagaimanapun dokter ingin gue melahirkan paling lambat tanggal 25 Mei 2008 agar air ketuban tidak keburu habis. Malam itu gue disuruh mamam yang banyak dan tidur karena melahirkan normal itu butuh tenaga banyak.
Jam 1 pagi tiba2 gue terbangun karena rasa sakit di perut yang begitu dasyat. Gue langsung memencet bel dan memanggil suster. Diperiksa dalam lagi (damn!) dan ternyata masih bukaan 1. U what? Bukaan 1 sesakit itu? Kata suster, memang begitulah rasanya diinduksi. Dan gue disuruh bersabar sampai bukaan 10.
Dalam penantian bukaan 10 terjadi, gue berulangkali merasakan sakit perut dasyat itu. Ah, gak bisa dilukiskan dey rasa sakitnya kayak apa. Campuran dari rasa mules pas mau mens, pas masuk angin, dan pas kram perut, Dan itu terjadi 5 mpe 3 menit sekali. Suami gue, nyokap gue, nyuruh gue tenang, tidur, dan dzikir. Bagaimana gue bisa tenang dan tidur?! Mereka tidak merasakan apa yang gue rasakan! Ya Tuhan... andaikan cairan induksi itu bisa disedot kembali dari tubuh gue...
Selama sakit perut berulang2 itu, gue mengalami berulangkali periksa dalam dan CTG. Rasa sakit, kaget, ngeri silih berganti gue rasakan. Bgmn gak kaget tiba2 lihat darah di kimono rumah sakit dan sprei gue? Bgmn gak ngeri melihat suster dan bidan yang silih berganti datang membawa sarung tangan dan melakukan periksa dalam? Saat lagi periksa dalam dan CTG subuh2, eeeh ketemu sama temen kuliah dulu yang istrinya baru melahirkan caesar. Ya ampyun, seneng banget yah bayinya dah lahir. Sementara saat itu bukaan gue masih bukaan 2! Masih lama perjuangan gue.
Rasa sakit terus berlanjut sd besok harinya. Gue sama sekali gak bisa tidur, gak mau makan, dan saking sakitnya perut gue, setiap gue bangun dari posisi tidur pasti gue muntah hebat. Badan gue benar2 lemah. Tetapi rasa sakit itu tidak juga berhenti. Saking gak kuatnya, gue mpe nabok2 suami gue. Kasian dey Bang Ai. Hehe.
Menjelang sore, tekanan darah gue dalam keadaan yang benar2 dasyat. 200/110! Bidan langsung mengambil darah gue dan memeriksa urine gue. Karena gue sedang tidak ingin pipis dan sudah tidak kuat utk berjalan ke toilet, akhirnya gue dikateter dalam keadaan tidak terbius! Bayangkan sakitnya seperti apa? Dan ternyata dalam urine gue ada protein. Dan 2 macam obat penurun tensi yang sudah diberikan ke gue tidak mampu menurunkan tekanan darah gue.
Akhirnya langsung diputuskan, gue harus menjalani caesar!
Ah, apapun itu... apapun akan gue jalankan asal gue tidak usah merasakan rasa sakit perut itu dan asalkan bayi gue selamat. Alhamdulillah, meskipun gue dalam kondisi seperti itu, hasil CTG gue tetap bagus sekali. Bayi gue memang benar2 kuat dan hebat.
Sebelum operasi, gue disuntik sana sini utk diperiksa apakah gue mengalami alergi terhadap suatu obat, seberapa cepat proses pembekuan darah gue, dll, dst. Dokter gue saat itu masiy dalam perjalanan dari Kebayoran menuju RSIA Permata Cibubur. Sedangkan gue rasanya dah pen cepet2 disuntik bius dan mengakhiri rasa mules itu!
Dokter gue akhirnya tiba. She said, "Jantung saya dalam perjalanan rasanya sudah mau copot. Saya nyetir sengebut2nya ke sini." Dan guepun dibawa ke ruang operasi. Dipasangin musik. Tulang belakang gue disuntik bius lokal. Dalam waktu 15 menit gue samar2 mendengar suara tangis bayi. Dan gue mendengar dokter gue berkata, "Tuh kan bener bayinya cewek." Lalu suara tangis menjauh kemudian mendekat lagi. Serta merta ada sesosok muka mungil muncul di hadapan gue. Muka mungil itu disodorkan ke puting gue untuk meminum asi gue. Sehabis itu dia dibawa pergi lagi. Kemudian gue dipindahkan ke kamar lain. Karena lelahnya gue tertidur. Saat gue terbangun suasana sekitar gue begitu sepi. Tiba2 gue mendengar ada yang berbisik, "Davina cantik sekali." Dan guepun tertidur lagi. Ya, gue begitu letih dan berbahagia.
Bayi gue terlahir begitu kecil. Hanya 2 kilogram. Tetapi dia sama sekali tidak masuk inkubator karena dia begitu kuat! Lihatlah. Dalam usia beberapa jam, dia sudah sanggup membuat bedong yang dia gunakan terkuak. Tangisannya juga paling kencang sekamar bayi. Cara dia menyedot asi juga begitu pintar dan semangat...
Memang gue sempat menangis dan depresi karena Davina "berbeda". Saat bayi2 lain di kamar bayi sudah mempunyai tubuh yang gempal, kulit yang bagus, dan bisa dipakaikan baju yang lucu2... Davina saat itu tubuhnya begitu kurus, kulitnya berkerut dan mengelupas2, semua bajunya kedodoran. Saat dokter anak mengatakan bahwa Davina harus dirawat dengan perhatian lebih krn berat badan yang kurang, gue merasa terpukul.
Tetapi lihatlah sekarang... Minggu depan Davina sudah 5 bulan. Dia sehat dan hampir tidak pernah sakit. Beratnya sudah 6 kiloan. Dia masih minum asi exclusive. Dia ceriwis dan aktif. Di umur 3,5 bulan sudah bisa tengkurap dan terlentang sendiri. Sekarang dah bisa onggong2 ke belakang dan selalu ingin duduk sendiri. Dia tidak kalah dengan bayi2 lain.
Dia memang anugerah Tuhan yang terindah yang (semoga) suatu hari nanti dicintai rakyatnya...
Friday, October 17, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
selamat ya,
ReplyDeleteYour life would never be same again
slamat ya sha.Davina lucu bgt!3,5 bulan udh tengkurep keren deh anak gw tuh 5 bulan baru tengkurep :)
ReplyDeletegratz, sha... wuih lama bener gw ga nyebut ni nama... wkwkwkw
ReplyDelete