Wednesday, June 04, 2003

Hari ini gue yah di rumah aja, beres2, selanjutnya ngendon di depan kompi. Mumpung kompi gue dah bener agi. Tapi internetnya cuma dipake bentar2 kok.

Hhh, kadang masalah dateng gak tau sikon ya. Orang dah sedih, masiy juga dihujam masalah baru yang laen agi. Tapi mau protes sama Yang Ngasih... malah dosa besar. Paling cuma bisa semaksimal mungkin menyelesaikan masalah itu dan selanjutnya berserah diri.

Hidup itu sungguh seperti roda... kadang di atas, kadang di bawah. Tapi jujur aja, baru sekarang ini gue ngerasa bener2 di bawah. Tapi ya ampun, jika dibandingkan dengan yang laen... gue masiy sangat sangat bersyukur dengan segala "kesempurnaan" yang gue miliki. Cuma sedih aja, kalo sampe one day rumah ini emang bener2 harus dijual. Ini bukan sekedar house... tapi ini adalah home... Banyak cerita yang terjalin di dalamnya.

Satu yang bisa gue lakukan cuma lulus secepetnya dan kerja, supaya bonyok gak mesti keluar uang agi buat biayain kuliah gue. Makanya gue sedih banget waktu maren kompi gue rusak. Gue takut file berisi skrip plus thesis gue hilang semua. Kalopun harus terjadi, kenapa harus pada saat yang sungguh tidak tepat seperti itu? Bukankah tanggal 30 Juni besok, thesis gue dah must be sent to ECU? Dan kalo gue gak berhasil, gue mesti milih 2 hal: DO atau bayar AUS$ 1000.

Di kamar ijo, gue sempet nangis. Cuma di tempat itu gue bisa mengeluarkan seluruh perasaan yang gue miliki. Keluar dari situ gue dah harus jadi seorang Sasha yang kembali kuat. Alhamdulillah, Tuhan masih sudi berbaek hati sama orang seperti gue. Well, komputer gue akhirnya bener dan gue bisa kembali melanjutkan skrip.

Mungkin orang sekilas bingung ya... katanya gue punya banyak masalah, tapi kok kerjaannya banyak having fun, jalan dan nonton mulu... Ah, gue gak ambil pusing deh sama orang2 yang punya pemikiran seperti itu. Gue toh tau sama apa yang gue lakukan. Dan gue gak perlu membeberkan panjang lebar tentang apa aja yang gue lakukan selama 1x24 jam... selaen having fun.

Bukan waktunya memikirkan terlalu banyak kepentingan orang lain saat ini. Jujur, gue agi lebih fokus sama diri dan dunia gue. Pengalaman mengajarkan bahwa tidak ada seorangpun yang lebih bertanggungjawab dengan hidup kita selaen diri kita sendiri. Gue merasa masalah gue kali ini cukup berat, so kapasitas otak dan hati yang gue perlukan untuk menyelesaikannya, juga banyak. Jadi maaf2 kalo gue kurang peduli sama sekitar.

Makanya gue cuek aja waktu Ranggi cerita tentang Caur yang tempo hari marah2. Mau gue tanggapin seperti dulu? Waduh, untung gue apa ya? Toh gue gak merasa salah. Well, Ranggi co gue... gue butuh Ranggi hari itu untuk menyebarkan kuisioner... dan Ranggi setuju2 aja... wajar donk? Apa iya gue harus jungkir balik minta maaf sama Caur karena Ranggi lebih mengutamakan kepentingan gue daripada kepentingan dia? Hoho. Sekali agi, gue gak ada waktu untuk itu.

Gue gak mau merepotkan hidup gue dengan hal2 yang tidak gue suka, hal2 yang tidak nyaman, hal2 yang menambah masalah baru. Jadi gue kini harus pintar memilih. Jika tidak suka, tidak nyaman, dan bermasalah, tinggalkan. Jika suka, nyaman, dan tidak bermasalah, lakukan. Sepertinya harus rada2 membuang perasaan dan mempertebal logika nih. Karena sekali gue menonjolkan perasaan daripada logika, langsung gue larut ke dalam jurang yang namanya KEBIMBANGAN.

Karena itulah, gue harus pergi dari hidup KK Pandu, setidaknya untuk sementara waktu. Setelah gue pikir dengan cermat, sebenernya tempo hari gue bukan marah padanya tapi marah dengan perasaan gue padanya. Kenapa gue harus memelihara perasaan tersebut sedangkan gue tau tidak ada seorangpun yang menerima dampak positif dari perasaan tersebut? Ranggi dikhianati, Pritta dibohongin, Kk Pandu penuh praduga, gue cemburuan.

Sudahlah. Kenapa gue harus merusak yang sudah tersusun? Dari awal toh sudah susunan tersebut sudah terbentuk... Ranggi untuk gue dan Pritta untuk Kk Pandu. Mau membuat susunan baru? Belum tentu susunan baru itu sama baik atau lebih baik dari susunan lama. Apalagi jika dibangun tanpa pondasi yang kokoh. Berulangkali gue disuruh memilih antara Ranggi atau Kk Pandu, belum sekalipun gue berhasil memberikan jawaban.

Sekarang aku harus mengokohkan pondasi itu. Sama aja dengan memberikan jawaban yang belum sempat terjawab. Oke, aku milih aku tetap berada dalam susunan lama, yaitu bersama Ranggi. Mau susunan lama tersebut jelek, mau susunan lama tersebut baik, itu masalah aku dengan Ranggi. Kk gak usah mikirin aku akan bahagia atau gak. Aku cuma pengen Kk tau, jawaban tersebut adalah keputusan yang aku anggap terbaik. Dan yakinkan aku, bahwa jawaban tersebut juga adalah keputusan yang Kk anggap terbaik.


Aku suka karena telah mengambil keputusan. Aku nyaman karena tidak harus berdebat tiada henti lagi sama Kk tentang suatu masalah yang sama dari hari ke hari. Jadi tidak ada masalah baru lagi kan? Sesuai dengan prinsip aku : jika suka, nyaman, dan tidak bermasalah, lakukan.Yeah, I have done it.

Bagaimana dengan rasa sayang aku ke Kk yang sudah ada sejak dulu? Tidak perlu Kk memikirkan hal itu karena aku pasti akan menjaganya dengan baik.Sebelum aku tutup ketikan ini, boleh aku bercerita tentang aku dan Ranggi? Hubungan kita berdua semakin baik semenjak segala masalah di antara kita berdua kita selesaikan tanpa melibatkan orang lain. Aku mendengar langsung apa yang dia mau, dia mendengar langsung apa yang aku mau, lalu ditemukan titik tengahnya. Saat2 paling romantis yang terjadi antara aku dan Ranggi adalah saat2 ketika aku dan Ranggi berusaha mencapai titik tengah tersebut. Kini, sekalipun aku nangis karena perbuatan dia, aku masih bisa menganggap dia sebagai zat serotonin yang dapat memicu hormon adrenelin ku. Ya, walau bagaimanapun, dia membuat hidupku senang.

Aku harap itu juga terjadi antara Kk dengan Pritta. Aku tidak peduli Kk masih sayang dengan Pritta atau tidak, yang pasti Kk emang tidak pernah lepas dari dirinya kan? :)

Maaf, Kk, kalau aku bisa berkata sesantai ini, seakan tidak pernah ada yang terjadi antara aku dan Kk. Kk tidak perlu tau apa yang sebenernya aku rasakan sama seperti aku yang tidak perlu tau dengan apa yang Kk rasakan. Karena sekali aku berniat mengutak atik kehidupan Kk lagi, maka kebimbangan itu akan kembali ada. Jadi Kk, aku mohon, untuk sekarang ini, biarkan aku lalui hari tanpa adanya Kk. Aku butuh mengukuhkan keputusanku hingga aku akhirnya benar2 yakin bahwa aku bisa tetap pada keputusan tersebut, sekalipun Kk telah masuk kembali dalam kehidupanku.

No comments:

Post a Comment