Monday, June 16, 2003

Sepertinya gue mo mens. Sekarang dah tanggal 16 Juni. Yah sekitar 7 hari agi deh. Moga2 gak telat seperti bulan lalu. Tanda2nya siy dah pada nongol, mulai dari muka gue yang jerawatan mpe nafsu makan yang gede. Sebentar2 laper. Bawaannya pen ngemil ini itu. Seperti sekarang.

Tadi gue, Mas Roy, dan bonyok abis membahas masalah yang gak bisa gue sebutkan di sini. Gue sedih sekali. Padahal maren bahkan tadi pagi gue masiy hepi banget. Dan masalah tersebut mampu membuat perasaan gue kini berubah 180 derajad. Memang kita gak pernah tau dengan segala kehendak Allah. Jika detik ini kita merasa semua begitu sempurna, bukan tidak mungkin detik kemudian Ia menghisap semua kesempurnaan itu, tanpa bekas.

Masalah yang ada sebenernya bukan masalah baru, cuma baru dibahas agi setelah beberapa saat tidak. Rumah ini... yah rumah ini... telah gue tinggali sejak gue lahir 23 tahun yang lalu. Menyimpan banyak cerita dan kenangan. Menjadi saksi metamorfosa hidup gue.

Ukurannya gak terlalu besar. Gue gak tau luasnya secara tepat. Yah sekitar 350 - 400 m. Ruangan yang paling gue suka yah tentu aja "kamar hijau" yang gak lain adalah tempat tidur gue. Bentuknya memanjang. Gak sempit juga gak lebar2 banget. Cukuplah memuat 1 double spring bed, 1 meja belajar, 1 perangkat komputer, 1 lemari baju 3 pintu, 2 nahkas, 1 meja rias, dan 1 lemari berlaci 5.

Kenapa dinamakan "kamar hijau"? Karena warna mayoritas di dalam kamar ini memang hijau, tepatnya hijau muda, mulai dari sprei, bed cover, gorden, karpet, keset, tempat sampah, lukisan, dan pernak pernik laennya. Actually, dulu warna mayoritas di dalam kamar ini adalah merah maroon. Lalu gue bosen trus pen ganti suasana "gelap" menjadi suasana "terang". Gue pilih hijau muda karena hijau muda nyegerin mata dan pikiran.

Temen2 gue yang dah pernah masuk "kamar hijau" ini rata2 bilang, "Gue kalo dah di sini suka males keluar." ... atau ... "Gue kalo dah tidur di sini suka males bangun." Gue ndiri betah berada lama2 di "kamar hijau" karena "kamar hijau" adalah tempat gue menjadi gue. Mengerti maksud gue kan, BloG?

Jika rumah ini dijual... ada 2 kemungkinan : kita pindah ke rumah baru yang lebih mungil atau kita pindah ke apartment. Gue lebih suka dengan kemungkinan kedua yaitu pindah ke apartment. Meski gak bisa memelihara kebun, at least kita bisa menggunakan fasilitas2 yang ada seperti kolam renang dan sarana2 olahraga laennya (I luv sport, anyway).

Sekalipun akhirnya memang bener pindah ke apartment, tetep aja gue merasa ada yang "hilang" yaitu rumah ini... dan "kamar hijau" ini... Hikz, bahkan sekarang saat semua belum terjadi, gue dah netesein aer mata. Dammit, gue niy sentimentil banget sih? Tapi sumpah, gue terlanjur mencintai habitat yang telah gue tinggali selama 23 tahun ini. Mengingat bagaimana gue, abang gue, dan bonyok sama2 merawatnya mulai dari ada pembantu hingga gak ada pembantu... Mengingat bagaimana seluruh pengelanaan gue selalu kembali pada rumah ini... Damn, bagaimana mungkin gue tidak dengan berat hati melepaskannya?!

Tapi sebenernya pindah tempat tinggal bukanlah hal yang aneh. Banyak orang melakukannya dan mereka fine2 aja. Mungkin karena gue belum pernah sekalipun mengalaminya. Mungkin karena gue seseorang yang posesive, yang begitu takut kehilangan apa yang gue miliki, yang begitu benci mesti berpisah dengan apa yang gue punya, jadinya gue semelankolis ini. Yeah, gue berharapnya siy (baca: berharap banget!) rumah ini tetep jadi milik kita. Kalopun pada akhirnya harus gak jadi milik kita agi, moga2 gue kuat ngelepasnya. :(

Oiya, gue tadi abis bikin surat buat Ranggi, tapi belum selesai. Ceritanya mau gue kasih ke dia hari Kamis besok. Well, tuh surat akan menjadi surat pertama gue untuk Ranggi. Hum, I hope he will like it.

No comments:

Post a Comment