Skripsi
Beberapa anak International Class memilih jalur non-skrip, sedangkan gue sejak awal kekeuh pen ambil jalur skrip, meskipun di satu sisi gue juga harus mengerjakan thesis. Dan sebenernya, gue mulai ambil skrip pada tahun ajaran 2001/2002, tepatnya semester 8. Sebagai anak International Class, dah pasti konsentrasi yang gue ambil adalah International Business. Banyak yang bilang konsentrasi tersebut susah, karena mempelajari semua bagian dari mata kuliah Manajemen, seperti International Finance, International Marketing, International Management, dan Cross-Cultural Framework. Tapi menurut gue, semua konsentrasi sama susahnya ah.
Pembimbing skrip gue adalah Dr. Asep Hermawan, MSc. Bukan seorang dosen yang asing agi di mata mahasiswa/i Fakultas Ekonomi Manajemen 3sakti dan Business Faculty International Class. Tapi gue sempet teramat sebel sama dia. Jadi begini ceritanya...
Selama kurang lebih 2 bulan gue bergelut di Perth, untuk menyusun proposal thesis. Bolak-balik perpustakaan Edith Cowan University. Bermalam di Mega Lab computer. Bahkan di hari Minggu sekalipun! Gak... gak cuma itu. Gue pun pernah pen nangis dalam rasa kesal yang luar biasa, karena disket gue yang berisi proposal tersebut sempet rusak sehingga gue harus kerja dari awal agi! Tapi akhirnya gue bisa bernafas sangat lega dan puas, saat proposal gue disetujui oleh Prof. Sybe (supervisor gue di Perth), dengan status "tanpa revisi sama sekali".
Lalu gue kembali ke Indo. Gue bersyukur karena supervisor gue di 3sakti untuk skrip dan thesis sama, yaitu Pak Asep tea. Jadi, thesis gue yang disusun dalam bahasa Inggris tinggal ditranslate ke dalam bahasa Indonesia untuk skrip. Dan proposal thesis gue tinggal diteruskan. Hanya sedikit merubah penyusunan di sana-sini. Tapi alangkah kagetnya gue saat Pak Asep me-reject thesis gue tersebut. Dia bilang, topik thesis gue kurang "international". Gue bener2 gak ngerti, kurang "international" seperti apa yang dia maksud. Bukankah gue membahas tentang "The Distinction Between New and Loyal Customers in Automobile Industry: A Comparison Between Foreign and Local Customer in Jakarta"? Prof. Sybe aja sangat menyetujui topik gue tersebut bahkan menobatkan proposal gue sebagai proposal tanpa revisi sama sekali.
Ternyata yang thesis-nya di reject oleh Pak Asep gak hanya gue aja, tapi BANYAK, termasuk Intan "Caur". Bahkan Caur sempet adu argumen sama Pak Asep hingga akhirnya memutuskan untuk ganti PS, menjadi Bu Evie, di mana Bu Evie bisa menerima thesis yang sempet di-reject oleh Pak Asep tersebut. Sedangkan gue? Walaupun gue sebel 1/2 idup sama Pak Asep, ntah kenapa gue memilih untuk bertahan. I will take a dare.
Lalu gue mencari2 jurnal baru, hingga akhirnya ketemu sebuah jurnal di Emeraldinsight, yang merupakan International Marketing Review-nya Mohammed Y.A. Rawwas yang berjudul "Culture, personality, and morality : A typology of International Consumer's Ethical Beliefs"... dan alhamdulillah tuh jurnal diterima oleh Pak Asep.
Ternyata PS gue adalah orang yang SUPER sibuk. Bayangkan, dia cuma menyediakan waktu konsultasi hari Senin dan Selasa aja, jam 07.00-08.00 yang kemudian dia rubah jadi hari Selasa (doank!), jam 06.30-07.30. Tau ndiri kan, rumah gue dari Grogol jauh bener dan terletak di daerah macet pula! Jadi gue sering terlambat dateng ke konsultasi dan kalo terlambat... ya udah, gue mesti nunggu seminggu agi untuk bisa ketemu Pak Asep. !@#$%^&*
Yang paling membetekan dari seorang Pak Asep adalah... betapa perfeksionis-nya dia. Pembimbing laen memperbolehkan mahasiswanya untuk langsung masuk ke Bab I bahkan ke BAB III, sedangkan Pak Asep mengharuskan kita membuat 2-5 halaman Usulan Penelitian dahulu, yang memuat garis besar skrip yang akan kita buat dari BAB I-V. Selama usulan penelitian tersebut belum memuaskan Pak Asep, maka kita sama sekali gak bisa masuk ke Bab I.
Lalu, kita butuh seorang PS kan untuk membimbing skripsi kita, betul? Tempat kita bertanya tentang jurnal lah, tentang teori lah, tentang metodologi lah. Tapi yang lucu, kita jutsru gak bisa bertanya sama sekali ke Pak Asep. Saat kita masuk ke ruangan konsultasinya, kita harus dah bener2 mengerti materi skrip kita. Kalau ada 1 pertanyaan dari Pak Asep yang kita gak tau jawabannya, itu dianggap kita belum menguasai skrip yang akan kita kerjakan, lalu kita disuruh keluar dari ruangan tersebut, dan baru boleh kembali kalo kita sudah menguasai skrip itu! Karena apa? Karena waktu yang Pak Asep miliki terlalu minim untuk ngurusin mahasiswa2 yang gak tau apa2! What the hell? What the fuck? Belagu banget siy? Apa gunanya dia sebagai PS gue donk kalo begitu?
Gue orangnya paling males nyembah2 sama orang (kecuali orang yang begitu gue sayangin *sigh*). Kalo Pak Asep gak respect ma gue, ngapain gue harus respect ma dia? Ngejar2 dosen mpe ke rumahnya? Gak ada dalam kamus gue. Karena kalo gue jadi seorang dosen atau PS, gue akan berusaha untuk tidak membuat mahasiswa berlaku seperti itu.
Karena gue dah keburu ilfil duluan...ditambah gue harus mengerjakan Business Project, jadilah skrip gue di semester 8 itu gak tersentuh sama sekali. Anyway, Business Project adalah semacam tugas akhir di International Class. Kita membentuk team, di mana (ceritanya) team kita tersebut adalah team konsultan untuk Perusahaan Eksport-Import. Sangat melelahkan. Mesti interview sama pedagang di Tanah Abang mpe sama karyawan PT Kebun (untung gak sama vampire segala ya?). Berburu jahe gajah. Bermalam di rumah Adhe. Walaupun kerja team, tapi tulang gue berasa remuk! Makanya, begitu selesai presentasi pada tanggal 19 Juni 2002 (my b'day lho!), perasaan gue berasa plooong banget!
Seharusnya gue bisa menyelesaikan kuliah dalam waktu 4 taun aja. Tapi gak apalah kalo harus jadi 4 1/2 tahun karena kesibukan gue di Business Project. Pokoknya di semester 9 gue akan genjot si skrip sekuat tenaga. Dan... niat hanya niat. Pada prakteknya, gue justru semakin gak bersemangat. Setiap konsultasi sama Pak Asep, gue selalu aja mendapat coretan merah yang panjang dan banyak sekali di atas skrip yang dah gue bikin. Revisi dan terus revisi. Menyebalkan! Akhirnya gue jadi (hampir) gak peduli sama sekali sama skrip tersebut. Gue pernah teramat bete dan males kalo ada orang yang tanya tentang skrip atau kelulusan gue.
Akhirnya masuk ke semester 10 dan gue lom lulus juga dari 3sakti, sementara temen2 gue yang baru ngambil skrip di semester 9 dah lulus duluan. Wah, gak bisa dibiarin terus menerus kek gitu! Lama2 gue ketinggalan mulu dan bangkotan di kampus! Mana biaya di 3sakti semakin mahal aja.
Dan, gue-pun mulai berjuang dengan skrip agi. Mencoba bangun pagi dan datang tepat waktu ke ruangan Pak Asep. Tahan mental melihat coretan2 merah yang panjang dan besar. Bersabar menjalani revisi demi revisi. Begadang di depan komputer atau tidur dengan ditemani bunyi printer.
Dan entah kenapa, pada saat2 berat seperti itu, Tuhan ngirimin gue seorang Ranggi. Dia hanya membantu skrip gue dalam hal yang sederhana2 aja kok. Tapi gimana ya... Kalau gue capek, kalau gue lelah, trus gue liat dia... trus gue habiskan waktu bersama dia... rasanya energy gue pulih kembali dan beban gue jadi gak begitu terasa berat agi. Dia memang luar biasa untuk gue. Anyway, I miss u, babe.
Temen2 gue sempet takjub karena di bab IV dan V, gue ngebut sekali. Tiba2 aja dah jadi. Gue ndiri juga bingung, kok gue bisa ya? Tapi akhirnya gue sadari, kalau ada niat... ada harapan... semua yang awalnya terasa sulit pasti bisa jadi terasa mudah. Dan ternyata Pak Asep juga gak semembetekan seperti yang gue sangka sebelumnya. Dia memang perfeksionis. Dia memang "miskin" waktu. Tapi dia mau kok kerjasama dengan gue asalkan dia bisa melihat jelas kalau gue BERUSAHA. Biar gimana, gue memang butuh dia untuk kelulusan gue. Kalau gue ngambek sama dia, kalau gue jauhin dia, yang rugi gue ndiri, sementara dia tetap digaji sama 3sakti dan tetep hidup bahagia. Anggap aja, gue sedang pacaran dengan seorang co yang begitu EGOIS dan gue dilatih untuk bersikap penuh PENGERTIAN.
Dan akhirnya, hari Selasa tanggal 2 September maren, gue sidang. Dan gue berhasil lulus dengan nilai A, nilai yang sangat memuaskan. Boleh kan kalo gue katakan... gue SANGAT BANGGA karena semua itu? Bahkan gue pernah berkata, "Dapet nilai B aja gue dah seneng." Ternyata Tuhan memberikan lebih. Perpanjangan 3 semester skrip gue, revisi2 yang seabrek, dan perjuangan yang cukup berat, terbayar sudah. Gue sungguh bersyukur untuk semua itu. Keberhasilan ini gue hadiahkan untuk diri gue sendiri, untuk orangtua dan keluarga gue, serta orang2 yang gue sayangi dan menyayangi gue.
Tapi bukan berarti perjuangan gue sudah usai. Satu langkah memang sudah terlalui, tetapi masih banyak langkah2 laen yang harus gue tempuh. Gue masiy harus menyelesaikan thesis (sekarang dah Bab V) untuk meraih gelar BBA, gue masiy harus bekerja (bukan bekerja asal2an, tapi bekerja di bidang dan tempat yang memang gue INGINKAN), dan married. :D Semua itu gak mudah lho. Semakin bertambah usia, semakin ke depan, justru masalah hidup semakin banyak dan berat.
Buat Sisca "buncis" tersayang... yang juga sedang bergelut dengan skrip-nya... dan mungkin juga sedang merasakan ilfil sama Pembimbing Skrip-nya... gue cuma mau bilang, hal yang sedang loe hadapin sangat wajar sekali. Akan tetapi, kalau loe mau lawan rasa ilfil loe itu, loe juga bisa. Yang penting niat dan berusaha. Pembimbing Skripsi-nya susah ditemui? Atau sok sibuk? Ehehehe, seperti yang dah gue bilang, anggaplah Pembimbing Skrip tersebut sebagai co kita yang begitu EGOIS dan untuk meruntuhkan keegoisannya tersebut kita harus bersikap penuh PENGERTIAN. Gue yakin loe bisa. Gue yakin loe berhasil. I will pray for it, sista... :)
Dan untuk Didi yang besok mau sidang, gue sangat berharap loe akan mendapatkan hasil seperti yang loe mau. Meskipun loe menganggap gue sudah gak peduli loe agi... tapi sesungguhnya gue gak akan berenti untuk selalu mengharapkan semua yang terbaek untuk loe. Dan gue gak butuh pengakuan untuk semua itu karena gue menyayangi loe tulus meski loe gak pernah tau. Good luck, my dearest fellow. :)
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment